Guru Profesional Masa COVID-19

Husnul Solehudin Azmi

Mahasiswa PGMI IAILM Suryalaya

Berbagai hal pun muncul ketika pembelajaran dengan cara daring dari masalah kurangnya sarana seperti smartphone dari siswa, dan guru yang harus siap dalam melakukan pembelajaran daring. Sehingga tadinya guru mengajar di kelas, sekarang guru mengajar secara online. Mungkin sebagian guru berpendapat hal tersebut mendadak. Lalu, bagaimana dengan guru yang gaptek, paling tidak hanya sebatas tahu menelpon dan SMS saja tidak sampai menjalankan aplikasi pembelajaran daring, sehingga guru hanya memiliki sedikit pengalaman dalam menggunakan media elektronik pembelajaran daring kesulitan dalam menggunakannya. Sedangkan melirik pada segi waktu menurut FSGI mencatat setidaknya 53 persen guru masih berorientasi pada penyelesaian kurikulum berbasis komputer di tengah wabah COVID-19 ini. Lantas bagaimana kesiapan guru dalam menyelesaikan kurikulum di tengah wabah tersebut. Disini guru dituntut harus profesional dalam menyusun kurikulum dan melaksanakan pembelajaran daring.

Wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mewabah ke berbagai negara termasuk indonesia. Tercatat ada 14265 per tanggal 12 April 2020 yang fositif COVID-19 di Indonesia, sehingga beberapa sekolah pun melaksanakan Belajar Di Rumah (BDR) dengan menggunakan pembelajaran daring. Bahkan penambahan masa pembelajaran dari rumah pun diperpanjang diberbagai daerah, demi menghambat penyebaran virus yang pertama kali ditemukan kasusnya di Wuhan, Cina tersebut.

Seorang guru harus memenuhi syarat kualifikasi akademik. Guru yang sudah mantap dalam meningkatkan kualitas kualifikasi akademik, akan sangat mudah dalam menyusun kurikulum berbasis komputer dan menerapkan pembelajaran daring dengan peserta didiknya. Dalam meningkatkan kualitas kualifikasi akademik guru. Guru dapat mengikuti pendidikan yang bberhubungan dengan peningkatan akademik. Hal ini telah dinyatakan dalam pasal 8 UU RI Nomor 14 Tahun 2005. Menurut pasal ini guru wajib memiliki kualifikasi akademik atau pendidikan akademik, kompetensi, sertifikasi atau sertifikat pendidik sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kompetensi yang dimaksud dalam pasal tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan profesional. Seperti halnya kemampuan akademik, semua kompetensi tersebut juga harus ditingkatkan dan tentunya dengan belajar.

Sekedar contoh dalam meningkatkan keprofesionalan guru dalam melaksanakan pembelajaran daring, guru dapat aktif dalam berbagai kegiatan seperti workshop atau diklat tentang pembelajaran daring. Dalam situasi wabah COVID-19 ini, guru dapat mencari kegiatan workshop pembelajaran daring secara online. Baik melalui kegiatan WEBINAR maupun daring dengan group workshop tersebut. Dengan mengikuti kegiatan seperti ini guru akan mendapatkan ilmu dan dapat diaplikasikan dalam pembelajaran daring. Yang sudah seharusnya guru dapat menyesuaikan dengan prisip pola pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan kondisi jaman sehingga sudah patutlah guru tersebut disebut guru yang profesional dan beretika.

*Admin-Aljoes