MENJADI PEMAAF DI IDUL FITRI

Nana Suryana

Ketua Prodi PGMI IAILM  Pondok Pesantren Suryalaya

Bulan suci ramadhan yang penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT. telah meninggalkan kita beberapa waktu yang lalu. Tentu bagi orang-orang yang sibuk dan menyibukan dirinya mengisi ramadhan dengan amaliah-amaliah yang baik (zikir, tadarus al-Quran, solat sunat nawafil, solat sunat tarawih, ‘itikaf, sodaqah, mencari ilmu, dan lain sebagainya)  kepergian bulan ramadhan sangat menyedihkan, seperti bersedihnya seseorang ditinggal pergi oleh sang kekasih. Hal ini tergambar pada sikap dan perilaku rasulallah pun, para sahabat, aulia allah, dan orang-orang saleh menangisi kepergian bulan yang suci tersebut. Muculnya sikap dan perilaku tersebut karena sebuah kekhawatiran jangan-jangan tidak akan bertemu lagi dengan bulan suci ramadhan.

Bagi umat Islam ramadhan telah banyak memberikan pelajaran dan pendidikan. Bukan hanya melatih menahan hawa nafsu dari makan,  minum, dan berhubungan dengan suami istri sampai waktu yang dibolehkan, ramadhan juga telah melatih kita untuk mau berbagi kepada sesama manusia melalui zakat fitrah di akhir ramadhan.

Satu moment yang ditunggu-tunggu umat Islam setelah ramadhan adalah tibanya hari raya idul fitri. Sebuah hari kegembiraan, hari kemenangan, hari dibebeskannya manusia untuk berbuka. Hal ini sesuai sabda Rasullah SAW, “Bagi yang berpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan pada saat berbuka dan kebahagiaan pada saat bertemu Allah SWT. nanti di akhirat”.

Memaknai Idul Fitri

Idul fitri merupakan hari kembalinya kita manusia pada kesucian (fitrah). Allah SWT berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menrut firtrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetpai kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. QS. al-Ruum ayat 30).

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, hari raya idul fitri menjadi ajang dan sarana untuk menjalin silaturahmi antar keluarga, teman, tetangga, dan handai toulan. Lazimnya antar satu keluarga dengan keluarga yang lain saling mengunjunigi. Munculah istilah yang namanya mudik. Mereka lakukan semata-mata bertujuan untuk merajut asa dan kasih yang mungkin telah renggang atau putus. Melalui jalinan silaturahmi tersebut kekerabatan dan keakraban akan terus terbangun. Bukan hanya di dunia melainkan insya Allah sampai ke akhirat nanti.

Kekerabatan dan keakaraban akan terbangun ketika semua orang mampu menghilangkan rasa iri, dengki, bencai, dan sejenisnya. Maka sejatinya akan lahir manusia-manusia pemaaf. Allah SWT. berfirman, “Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya, atau memaafkan sesuatu kesalahan orang lain, maka sungguh Allah maha pemaaf (QS. An-Nisa ayat 149).

Melalui ayat di atas Allah mengajarkan kepada kita bahwa sebesar apapun kesalahan orang lain, sedah sepatutnya kita mau dan mampu memaafkan kesalahan orang lain. Ingat Allah saja Maha Pemaaf terhadap ummatnya.  Untuk itu diperlukan sebuah ikhtiar bagaimana agar kita mampu memaafkan kesalahan orang lain (pemaaf).

Dalam konteks sosial setiap manusia tidak bisa terhindar berinterkasi dan saling berhubungan dengan orang lain, karena manusia makhluk sosial (zoon poiticon). Sudah menjadi sunnatullah dalam proses interkasinya tidak akan berjalan mulus, bisa jadi diantara kita pernah merasa tersinggung, tidak enak, dan lain sebagainya. Sebuah situasi yang wajar. Tetapi dibalik itu ada kewajiban bagi kita untuk mampu saling mengerti, memahami, dan memaafkan diantara kita. Sikap dan perilaku itu akan muncul manakala kita memiliki kesucian hati dan kesucian hati akan muncul ketika penyakit-penyakit hati telah dikikis habis dalam diri kita. Karena sesungguhnya semua periaku dan perbuatan kita dikendalikan oleh hati. “Ketahuilah, sesungguhnya dalam diri manusia itu ada segumpal darah. Apabila baik segumpal darah itu maka akan baik pula seluruh jasad dan perilakunya, dan apabila jelak segumpal darah itu maka jelek pulalah seluruh jasad dan perilakuknya. Ketahulilah segumpal darah itu adalah hati” (al-Hadits).

Rasullah SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara membersihkan hati. Beliau bersabda, ‘’Sesungguhnya segala sesuatu itu ada alat pencuci atau pembersihnya. Dan alat pembersih hati adalah zikir kepada Allah dengan mengucapakan kalimat Laa Ilaaha Ilalloh’ (Al-Hadits). Sesorang yang sudah bersih hatinya, dijamin oleh Allah SWT sebagai manusia yang beruntung. Dalam surat al-‘Ala ayat 14 Allah SWT berfirman, ‘’Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri”. (QS. Al-‘Ala : 14). Mudah-mudahan melalui momen ‘idul fitri ini kita semua menjadi para pemaaf. Semoga Allah memberikan kekuatan dan keistiqomahan kepada kita untuk menjadi manusia-manusia pemaaf. Amin. Wallahu’alam bissowaab.

 

*Admin-Aljoes