PEMILU PESTA KECEMASAN

Nana Suryana

Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya Tasikmalaya

Pengalaman sebagai kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS), menemukan banyak hal yang mengindikasikan pemilu belum mampu mewujudkan suasana kegembiraan, kesukariaan, dan suka cita bagi masyarakat. Melalui pemilu banyak orang diselimuti rasa cemas dan ketakutan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Versi V cemas diartikan risau hati karena khawatir, takut; gelisah. Asosiasi Psikiatri Amerika memaknai cemas sebagai ketakutan/keprihatinan, tegang, rasa gelisah, yang berasal dari antisipasi bahaya, sumber sebagian besar tidak diketahui. Secara manusiawai munculnya kecemasan pada individu merupakan hal yang wajar. Kalau seseorang tidak mengalami kecemasan maka dia dianggap abnormal, demikian para psikolog mengatakan.

Kecemasan sebagai KPPS pun saya alami. Apakah dapat melaksanakan tugas KPPS dengan baik. Kecemasan ini muncul karena pemilu tahun ini pertama kali dilaksanakan secara serentak di Indonesia bahkan di dunia. Apakah proses penghitungan dan pencatatan suara akan berjalan laancar atau malah terjadi error (masalah). Beruntung kecemasan itu tidak berlangsung lama, saya dapat segera mengatasinya dan akhirnya dapat melaksanakan tugas dengan baik, lancar tanpa hambatan yang berarti. Sebagaimana di beritakan, selepas proses pemungutan dan perhitungan suarat di TPS ada anggota KPPS yang mengalami keguguran kehamilan bahkan meninggal dunia karena alasan kecapaian menyelesaikan tugas KPPS. Lalu kemudian apakah penyelenggara pemilu memberikan asuransi bagi KPPS yang meninggal?

Lain halnya bagi pemilih, kecemasan muncul pada saat mereka harus menyalurkan suara dengan mencoblos sebanyak lima surat suara yang berisi nama capres dan cawapres, nama partai dan calon dari masing-masing partai yang begitu banyak tanpa mereka mengenal orang, visi, dan misinya. Pada saat pemilih masuk bilik suara rata-rata dari mereka bingung, keringat bercucuran, salah tingkah, dan lain sebagainya. Mereka bingung cara membuka surat suara, siapa yang harus dicoblos, dan bagaimana cara melipatnya. Kecamasan berlanjut pada saat memasukan surat ke dalam kota suara yang berbaris dengan warna yang berbeda. Bagi sebagian orang hal itu tidak menjadi masalah namun bagi banyak pemilih terutama para orang tua tahapan tersebut menjadi sebuah momok. Persoalan ini muncul disebabkan kurangnya sosialiasi pihak KPU pada masyarakat tingkat bawah. Sosialisasi hanya mampu menyetuh kalangan elit, akademisi, dan kampus.

Makna Pemilu           

Proses pemilihan calon presiden dan wakil presiden, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dewan Perwakilan Rakyat Propinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota telah berakhir 17 April 2019 yang lalu. Saat ini kita semua sedang menunggu pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) siapa yang menjadi pemenang. Pemilu yang oleh sebagian orang disebut pesta demokrasi menyisakan banyak cerita bukan hanya siapa yang menjadi pemenang melainkan banyak hal, biaya yang dikeluarkan yang begitu besar, tenaga dan waktu yang dikeluarkan seluruh penyelenggara pemilu, dan pengamanan pemilu.

Pesta demokrasi terdiri dari dua kata yaitu pesta dan demokrasi. Secara bahasa pesta berarti bersuka ria; perayaan, sedangkan demokrasi adalah pemeritahan yang seluruh rakyat  turut serta memerintah dengan perantaraan wakinya. Pesta demokrasi dapat diartikan sebagai proses memilih wakil rakyat yang dilaksanakan secara suka ria, penuh kegembiraan, dan suka cita. Menilik definisi di atas, sejatinya pelaksanan pesta demokrasi (pemilu) pun dapat memberikan dampak kesukariaan, kegembiraan, dan keriangan bagi para pelaku pesta demokrasi tersebut. Pertanyaan kemudian apakah hal itu terjadi atau sebaliknya.

Pemilu Pesta Kecemasan

Kecemasan itu ternyata memiliki berdampak yang signifikan terhadap hasil penghitungan suara. Tidak sedikit suara yang tidak sah, karena terjadi kesalahan dalam pencoblosan sehingga suara para pemilih menjadi sia-sia. Berita media elektronik (TV) mencatat ada beberapa TPS di beberapa daerah bahkan di luar negeri pemilih yang ngamuk dan memarahi KPPS karena cemas dan khawatir tidak dapat menyalurkan suaranya. Kecemasan-kecemasan seperti itu tidak berhenti hanya di tempat pemungutan suara (TPS) saja tetapi berlanjut sampai ke rumah. Cerita seorang pemilih misalnya dia merasa tidak enak makan sampai tidak mau makan. Menurutnya ada beban berat dipikirannya dan belum bisa dilepaskan pada setelah melaksanakan pemungutan suara di TPS.

Kecamasan juga muncul terhadap para calon.  Apakah dia akan memperoleh suara yang memenuhi target sehingga lolos ke legislatif atau tidak. Kecemasan itu terindikasi dari cara yang dilakukan para calon untuk mendulang suara walaupun harus menggunakan  cara-cara yang tidak dibenarkan (money politics) dan sebagainya. Jauh sebelum proses pemungutan suarat di TPS beberapa rumah sakit sudah menyiapkan ruang khusus untuk para calon yang mengalami gangguan jiwa karena gagal dalam pemilu.

Menilik cerita di atas sudah sepantasnya pemilu serentak seperti ini menjadi bahan renungan dan evaluasi semua pihak terutama pemerintah dan penyelenggara pemilu. Dari sisi finansial pelaksanaan pemilu serentak dapat menghemat anggaran, namun ada aspek lain yang juga harus menjadi pertimbangan. Kita sepakat bahwa sejatinya sebuah pesta dengan anggaran yang besar dapat melahirkan suasana kegembiraan, kesenangan, keceriaan, persatuan dan kesatuan serta menghasilkan pesta yang berkualitas bukan justru suasana kecamasan, ketakutan, dan saling menghujat satu dengan yang lain. Jika justru pemilu menimbulkan dampak kecemasan dan ketakutan bagi masyarakat maka pemilu adalah sarana malahirkan kecemasan. Wallahu alam.

*Admin-Aljoes